Selasa, 08 November 2011

Behaviorisme


Pengertian Behaviorisme
Aliran psikologi yang menekankan pada tingkah laku / perilaku manusia ( individu ) sebagai makhluk reaktif yang memberikan respon terhadap lingkungandi sekitarnya. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku orang tersebut.
B.Tokoh – Tokoh Beserta Teorinya
1.Edward Lee Thorndike ( S – R Bond / Connectionism )
Belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara stimulus dan respon. Eksperimennya berupa kucing yang dimasukkan ke dalam sangkar tertutup yang apabila pintunya dapata dibuka, secara otomatis knop di dalam sangkar menutup untuk menguji teori trial and error. Ciri – ciri belajar Trial and Error adalah adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap situasi, ada eliminasi terhadap respon yang salah, ada kemajuan reaksi – reaksi mencapai tujuan. Sehingga ia menemukan hukum berikut ini :
  • Hukum Kesiapan ( Law of Readiness )
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
  • Hukum Latihan ( Law of Exercise )
Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut akan semakain kuat.
  • Hukum Efek ( Law of Effect )
Hukum akibat hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan akan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hal ini telah dibuktikan Ivan Petrovich Pavlov dan Watson Pavlov dalam eksperimennya terhadap anjing.
2.Ivan Pavlov ( Classical Conditioning )
Dari eksperimen yang dilakukan terhadap seekor anjing, Pavlov menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
  • Law of Respondent Conditioning ( Pembiasaan )
Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer maka refleks dan stimulus yang lainnya akan meningkat.
  • Law of Respondent Extinction ( Pemusnahan )
Jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
3.B. F. Skinner ( Operant conditioning )
Tingkah laku bukanlah sekedar respon terhadap stimulus tetapi merupakan suatu tindakan yang disengaja atau Operant yang dipengaruhi oleh apa yang terjadi sesudahnya. Skinner mengemukakan dua prinsip yaitu :
Respon yang diikuti oleh reward ( penghargaan ) akan cenderung diulangi. ( Law Of Operant Extinction )
Reward akan meningkatkan kecepatan terjadinya respon. ( Law of Operant Conditioning )
Dalam Muhibin Syah, 2003 menyebutkan bahwa Operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan.
4.John B. Watson
John B. Watson menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan.
5.Albert Bandura ( Social Learning )
Teori Bandura memandang perilaku individu tidak semata – semata refleks otomatis atas stimulus ( S – R Bond ), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip teori belajar sosial ( teori observational learning ) bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral melalui proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain.
C. Aliran Behaviorisme Dalam Pandangan Islam
Ajaran islam diharapkan dapat mengkaji perilaku dengan cara mempertimbangkan jiwa dan badan, perilaku manusia hanya merupakan interpretasi dari kejiwaan manusia. Jadi tidak hanya dari satu aspek saja. Yang diperkuat dengan pendapat dari M. Ramli, yaitu :
“Al-Yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum nikmati wa radhitu islami dina”.
Artinya dalam aliran behaviorisme, terujinya suatu kejiwaan manusia dengan suatu eksperimental, observasi dan uji coba memang yang dilakuakan tokoh-tokoh behaviorisme adalah benar karena tanpa uji coba kita tidak bisa menilai seseorang, dan pengkajian seharusnya dimulai dengan rumusan menurut Allah. Seperti firman Allah QS. At – Taubat ayat 16 :
Artinya :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan ( begitu saja ), sedang Allah belum mengetahui ( dalam kenyataan ) orang – orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengeahui apa yang kamu kerjakan”.
Di dalam islam ada yang disebut dengan ujian, dalam firman Allah QS. Ash-Shaffaat ayat 106 :
Artinya :
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata”.
Aliran behaviorisme mempelajari terbentuknya perilaku manusia berdasarkan konsep stimulus dan respon, yang berarti perilaku manusia sangat terkondisi oleh lingkungan. Satu – satunya motivasi yang mendorong manusia bertingkah laku adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Konsep ini mengisyaratkan bahwa ketika manusia dilahirkan, ia tidak membawa bakat apa – apa dan mengingkari potensi alami manusia. Aliran behaviorisme menolak determinan perilaku manusia, karena manusia berkembang atas dasar stimulasi dari lingkungannya.
Pandangan ini beranggapan bahwa manusia tidak memiliki kesempatan untuk menentukan dirinya sendiri, oleh karena itu aliran ini memiliki kecenderungan untuk mereduksi manusia. Artinya, manusia tidak memiliki jiwa kemauan dan kebebeasan untuk menentukan pilihannya sendiri.
Dalam hal ini kiranya perlu dipertimbangkan bahwa manusia sebagai makhluk hedonis, padahal manusia juga memiliki kehendak untuk mengabdi pada Tuhannya dengan tulus ikhlas dan penuh kesadaran. Pandangan ini mengangkat derajat manusia ke tempat yang teramat tinggi. Ia seakan-akan pemilik akal budi yang hebat serta kebebebasan penuh untuk berbuat sesuatu yang dianggap baik dan sesuai dengan dirinya.
Kaidah dan hukum belajar ini dapat dianggap sebagai keunggulan dari aliran behaviorisme dalam menelaah konsep manusia yang dikaitkan dengan dengan salah satu fenomena sunnatullah, yaitu bahwa manusia dapat mengubah nasib dirinya sendiri.Seperti firman Allah SWT pada QS Ar – Ra’d ayat 11 yang memiliki arti :
Bagi manusia ada malaika – malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali – kali tak ada pelindung mereka selain Dia

Empat Pilar Pendidikan UNESCO

1. Belajar mengetahui (learning to know)
Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.
Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan.
Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).
2. Belajar berkarya (learning to do)
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).
3. Belajar hidup bersama (learning to live together)
Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)
4. Belajar berkembang utuh (learning to be)
Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

Senin, 07 November 2011

Kode Etik Guru

1. Guru Berbakti Membimbing Peserta Didik Untuk Membentuk Manusia Indonesia Seutuhnya Yang Berjiwa
    Pancasila.
2. Guru Memiliki Dan Melaksanakan Kejujuran Profesional.
3. Guru Berusaha Memperoleh Informasi Tentang Peserta Didik Sebagai Bahan Melakukan Bimbingan Dan
    Pembinaan.
4. Guru Menciptakan Suasana Sekolah Sebaik-Baiknya Yang Menunjang Berhasilnya Proses Belajar
    Mengajar.
5. Guru Memelihara Hubungan Baik Dengan Orang Tua Murid Dan Masyarakat Sekitarnya Untuk Membina
    Peran Serta Dan Rasa Tanggung Jawab Bersama Terhadap Pendidikan.
6. Guru Secara Pribadi Dan Bersama-Sama Mengembangkan Dan Meningkatkan Mutu Dan Martabat
    Profesinya.
7. Guru Memelihara Hubungan Seprofesi, Semangat Kekeluargaan, Dan Kesetiakawanan Sosial.
8. Guru Secara Bersama-Sama Memelihara Dan Meningkatkan Mutu Organisasi PGRI Sebagai Sarana
    Perjuangan Dan Pengabdian.
9. Guru Melaksanakan Segala Kebijaksanaan Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan.